Selasa, 03 April 2012

''Lautan Jilbab'' Mengalir di Britania Raya

TEMANKU Anisa asal Barbados yang juga muallaf mengundangku kerumahnya di Tooting, untuk acara perpisahan. Keluarga ini akan berhijrah ke Kairo, ingin mencicipi kehidupan dengan nuansa 'Islami' katanya.
Aku dikenalkan dengan teman-temannya yang multi bangsa dan warna. Ada yang tulen Inggris, wanita Aljazair berkebangsaan Prancis, Jamaika, Ethiopia dan Nigeria. Unik sekali.
Aku tertarik dengan penampilan Joana Rowntree, Muslimah Inggris asli yang mengenakan busana Muslim penuh. Mirip abaya, longgar, berwarna abu-abu dengan jilbab berwarna biru muda. Aku menyapa dan memperkenalkan diri.
Joanna, perempuan Inggris berusia sekitar (26 tahun), baru saja memeluk agama Islam sekitar 3 tahun. Joanna berprofesi sebagai Medical Reseach bekerja di Guy Hospital, London Bridge.
Ia mengalami perjalan spiritual yang panjang. Alkisah, usai sekolah SMU di Inggris, ia tidak langsung ke universitas tapi memutuskan untuk melanglang buana. Dia percaya bahwa merantau bisa memperluas cakrawala.  “Travel can broaden your mind,” ujarnya.
Iapun mendaftarkan diri untuk jadi volonteer dengan British Council. Mengajar bahasa Inggris adalah satu satunya cara untuk keluar negeri, kenangnya bercerita ketika awal masuk Islam.
"Saya ingin cari pengalaman dengan merantau", tambahnya. Joanna akhirnya memilih ke Serawak, Malaysia.
"Tempatnya jauh sekali, di sebuah desa di pedalaman pulau Borneo," papar Joanna sambil mengawasi anaknya yang berambut pirang.
"Malay people are very kind and gentle. Orang Melayu baik-baik dan lemah lembut, saya betah di sana. Sampai-sampai saya tinggal disana kurang lebih 10 bulan, " tambahnya.
Lalu apa yang membuatnya masuk Islam?
Suatu hari, saat istirahat, murid-murid  selalu mendatanginya. Biasanya, mereka selalu datang menyampaikan salam. Suatu hari, rupanya mereka menyodorkan buku kecil dan tipis.

"Miss..miss kenal dengan nabi Muhammad, Rasul kami? " tanya salah satu mereka, mereka berdesakan dan masing-masing ingin dapat perhatian.
"Siapa tuh Muhammad...saya tidak tahu," dengan sabar Joanna menjawab pertanyaan mereka.
"Ini miss.. baca buku ini...di sini ada sejarah tentang nabi kami, Muhammad," ujar mereka menghadiahi buku kecil tentang Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) pada Joanna.
Karena menggunakan  bahasa Melayu, rupanya Joanna kurang memahami.  Ia akhirnya menolak dengan lembut agar anak-anak tidak tersinggung.
"....tapi miss, Anda kan guru bahasa Inggris Anda mesti belajar bahasa kami, bahasa Melayu. Ini hadiah dari kami dan bacalah." Akhirnya buku itu diterima oleh Joanna sambil tercenung berfikir betapa baiknya mereka ini.
Joanna sangat menghargai pemberian itu, seakan ia diberi perhatian khusus oleh anak-anak, dia sangat terharu.
Sejak itulah Joanna tertarik dengan agama Islam. Ia menyempatkan diri ke toko buku saat Joana berada di Kuala Lumpur. Pesan anak-anak itu cukup membekas di hatinya.
Ternyata banyak sekali buku-buku tentang Islam yang berbahasa Inggris. Joanna membeli kamus Inggris Melayu yang kecil. Pikirnya pasti anak anak akan senang kalau mereka tahu bahwa ia belajar bahasa Melayu. Sejak itulah Joanna mulai tertarik mengenal Islam hingga mengucapkan dua kalimah syahadat.
Di mana-mana
Lain lagi cerita Nini, wanita asal Indonesia yang juga residen (pemukim yang bersuamikan Inggris) ini mempunyai cerita unik. Karyawati di sebuah Department Store ini cukup lama tinggal di sini, 10 tahun lebih. Dulunya ia seorang penari. Ramah dan lincah. Temannya di mana-mana. Setelah gabung dengan sebuah pengajian student Indonesia di kota London ia menemukan sesuatu, mengaku merasa bahagia berada di lingkungan yang nyaman serta banyak mendapatkan masukan.
Suatu hari terjadi perubahan cukup drastis. Nina berkeinginan mengenakan jilbab. Tapi ia hanya memakainya dari rumah ketempat pengajian, lalu ke supermarket atau ke station.  Namun sampai di tempat bekerja ia lepas. Ada selaksa perasaan berdosa, namun Nina tengah memupuk keberaniannya.
Setiap ia datang ke pengajian, sering sang kain berbentuk segitiga itu melorot dan jatuh kepundaknya.
Suatu hari, saya menegurnya,  “Mana penitinya Nin,” aku menolongnya untuk menjepitnya.
“Wow, kok malah jadi cantik sih, liat tuh di kaca, kecantikanmu malah menyeruak, “ ujarku meyakinkan.  Memang betul, ia tanpak lebih cantik dan anggun. Ia tersenyum malu campur bangga.
“Jika belum berani full time, cobalah part-time dulu, biasakan dulu, supaya kita bisa PD (percaya diri) dan orang-orang di sekitar kita tidak kaget,” begitu nasehatku.
Suatu hari, ia melakukan pengamatan. Diam-diam ia mencari tahu berapa banyak jumlah Muslimah di tempatnya bekerja. Ia kaget, ternyata jumlahnya cukup banyak. Akhirnya, setiap ke kepengajian, ia sibuk membahas dan bercerita tentang jilbabnya. Nini akhirnya mulai terobsesi dengan jilbab. Ia bahkan meminta saran kapan ia bisa memulai mengenakannya ke tempat bekerja.
"Saya tunggu waktu, support aku deh," tambahnya. "Aku takut dipecat teh,"ujarnya nampak was-was. Dan saya menenangkannya dengan menjelaskan bahwa keyakinan dilindungi undang-undang. Layaknya orang-orang  Yahudi di tempat ini, yang juga memakai sesuatu di kepalanya.
Suatu ketia,  Nini mengambil 'day off', Nina mengajak teman-temannya untuk minum kopi. Tentu dia mengenakan jilbab. Pada saat hendak pulang, tiba-tiba dia membelok ke tempat ia bekerja untuk sekedar menyampai kan hello kepada teman kerjanya. Rupanya dia lupa kalau mengenakan jilbab. Tentu saja semua temannya terkejut. Kebetulan sang supervisor yang Muslim sedang berada di situ.
"Ooh..I didn't know you wear hijab, Nin," tegurnya. Ia jadi tersipu malu sambil mengatakan bahwa ia mengenakan jilbab.
"Why dont you wear it to work, " tantangnya.

"Really? Can I wear hijab to work?," seolah tak percaya mendengar tawaran yang dinilai sangat exciting itu.

"Well of course you can..I will talk to my manager and I am sure you have the right in this country," jawabnya meyakinkan.

Tak terbayang rasa gembira di hati Nini hari itu. Ia mendapat support penuh dari sang supervisor. Ia pulang dengan langkah yang, duh rasanya ringan sekali. Ingin sekali ia berteriak ke langit. Kini Nini mengenakan jilbab yang warnanya disesuaikan dengan seragam kerja.
Menariknya, konon langkahnya itu kemudian banyak diikuti oleh beberapa muslimah yang selama ini bersembunyi dari persembunyiannya.

Dan seperti biasanya, teman dan sahabat yang biasa pergi ke disko atau berkumpul untuk bersenang senang, mereka satu-persatu menjauhi Nini.

Diludahi

Suatu hari, seorang wanita namanya Jannifer, panggil saja sister Jane, seorang muallaf yang kukenal di depan Kedutaan Perancis, saat berdemo tentang hijab. Diam-diam, kami menjadi sahabat.

Suatu hari, melalui saluran telpon, ia bercerita tentang keyakinannya.

"Karena saya sudah bersyahadat yang artinya kesaksian dan pengakuan saya terhadap adanya Allah yang Esa serta kesaksikan saya bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah, maka ini adalah sebuah komitmen dan janji saya. Artinya saya tidak bisa hanya mengambil setengah-setengah. Saya harus ambil seutuhnya, termasuk mengenakan hijab tentunya," ujarnya.

Saat mengawali masuk Islam, Jennifer tidak tahu bagaimana caranya mengenakan jilbab. Ia membeli dua helai kerudung lalu disampirkan dikepala.

Dengan mengenakan jilbab, ia mengaku lebih tenang di jalanan, tanpa menarik perhatian kaum lelaki yang selalu berfikir kalau perempuan adalah objek seks.
“Saya marasa bebas dari tekanan untuk kompetisi kecantikan. Sayapun bisa jadi lebih nampak sederhana," paparnya.

Meski demikian, ada juga yang menatap  dengan pandangan bermacam- macam, tapi Jane tidak peduli. 

"Tatkala saya mengenakan jilbab saya merasakan kehangatan pada jiwa dan hati saya. Ada rasa aman dan tenang, walaupun saya merasakan bahwa saya masih belum mampu memenuhi perintahNya, saya takut bahwa saya belum bisa meraih ridhoNya," ujar Jennifer.

Saya, Joanna, Nini dan Jane dan para muslimah di Inggris (dan di Negara-negara Eropa lainnya) memang sangat beruntung, secara umum penduduknya cukup demokratis  melindungi pilihan kita menggunakan jilbab.

Jilbab datang dan menghampiri perempuan Inggris memang tidak seketika alias sekonyong-konyong. Meski ada tertentu beberapa muslimah tiba-tiba ingin mengenakan jilbab, namun umumnya pengaruh teman. 

Meski demikian, hanya menyampirkan sehelai kain di kepala kita, di negeri ini harus memerlukan “jihad” tersendiri. 

Saat terjadi insiden besar di UK, 7 Juli (kasus bom di Kereta api bawah tanah) misalnya, memaksa para Muslimah ekstra hati-hati. Tak sedikit di antara Muslimah yang menjadi sasaran public. Di jalanan Muslimah dimaki, diludahi atau diteriaki ‘Hei teroris’ atau perlakuan yang tidak nyaman lain. Namun bagi mereka yang kenal situasi negeri itu akan paham. Bahkan anak saya bisa bilang, “Just ignore them mum, they are just so ignorant.” (Mereka itu tidak tahu apa-apa, jadi cuekin saja).

Menurut data, populasi Muslim di Inggris saat ini sekitar 2,8 juta (4,6 persen total penduduk). Inggris memiliki komunitas Muslim terbesar ketiga di benua Eropa, setelah Jerman dan Prancis. Kaum Muslim bisa ditemui di mana saja, termasuk jamaah sholat Jumat meluber di jalanan.

Dan jilbab, kini merupakan bagian dari komunitas di Britania Raya sebagai negara yang beragam; baik kebangsaan, etnis dan agama serta warna. Anda bisa melihat jilbab di mana saja, mengalir. Kecuali di Bromley, terutama di desa saya di Pettswood.
Kadang saya berfikir, “Ah jangan-jangan cuma saya sendiri berjilbab, yang kebetulan penduduknya 98.5% adalah putih/Inggris.”  Hanya saja,  saya merasa, orang-orang di sekitar saya tidak merasa terancam dengan keberadaanku.

Meski minoritas, saya tetap membaur, bukan mengucilkan diri dengan orang-orang di sekitar, sembari menunjukan akhlak islami kita.

Doa saya dari Anda, semoga, saya dan Muslimah lain di UK tetap istiqomah menegakkan peritah menurut aurat seperti dalam surat al-Ahzab: 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. 33:59].*/ Al Syahidah, Bromley, 5 Februari 2012

Kandidat Walikota di Inggris Bersumpah Jadikan London Kota Mercusuar Islam



Calon walikota London dari Partai Buruh Ken Livingstone bersumpah untuk mengubah kota ini menjadi sebuah mercusuar Islam dan mendidik warga London tentang keyakinan Islam.
"Hal ini akan membantu kota kami sebagai rambu yang menunjukkan arti dari kata-kata Nabi Muhammad," kata Livingstone dalam pidatonya di Masjid Finsbury Park yang dikutip oleh The Daily Telegraph pada hari Senin kemarin (19/3).
Livingstone juga berjanji untuk "mendidik massa London" tentang Islam.
Pernyataan Livingstone dilakukan selama shalat Jumat di Masjid London Tengah Utara, yang juga dikenal sebagai Masjid Finsbury Park, yang dikendalikan oleh Asosiasi Muslim Inggris.
Livingstone, merupakan salah satu politisi Inggris yang paling berwarna dan populer, terpilih menjadi Walikota London pada tahun 2000 dan terpilih kembali pada tahun 2004.
Dia terkenal untuk dukungannya yang kuat terhadap minoritas Muslim serta menentang kampanye Islamophobia.
Namun, ia kehilangan posisinya diambil alih oleh kubu konservatif Boris Johnson pada tahun 2008, yang terkenal karena menyinggung etnis minoritas.
Livingstone yang merupakan mantan walikota secara luas didukung oleh pemilih Muslim.
Livingstone telah muncul di acara-acara seperti IslamExpo, yang menarik puluhan ribu orang setiap tahun.
Dia pernah mendapat serangan sengit dari kubu sayap kanan pada tahun 2004 karena mengundang Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, presiden persatuan ulama Muslim internasional, untuk sebuah konferensi pro-hijab.
Livingstone mengatakan ia akan berusaha untuk mendidik warga London tentang tradisi-tradisi Nabi Muhammad.
"Saya ingin menghabiskan empat tahun ke depan memastikan bahwa setiap non-Muslim di London mengetahui dan memahami kata-kata dan pesan Nabi Muhammad," katanya kepada jamaah di masjid.
Mantan walikota London ini menjelaskan kata-kata Nabi dalam ceramhanya sebagai "agenda untuk seluruh umat manusia."

Moral Pasukan Koalisi Jatuh Saat Diserang Tentara Aghanistan

Pasukan koalisi NATO di Afghanistan mengatakan serangan terhadap personil yang berasal dari tentara Afghanistan mengalami efek luar  terhadap moral pasukan koalisi Barat.

Jubir pasukan gabungan atau International Security Assistance Force (ISAF) mengatakan pada Senin bahwa kematian pasukan koalisi di tangan tentara Afghanistan telah melemahkan semangat di antara pasukannya.

"Meskipun insiden kecil jumlahnya, kita menyadari pengaruhnya sebagai efek pada moral," kata jurubicara ISAF Brigadir Jenderal Carsten Jacobson di Kabul.

"Setiap insiden memiliki efek di luar proporsi terhadap moral dan yang berlaku untuk pasukan koalisi saat mereka bersama pasukan keamanan nasional Afghanistan," tambahnya.

Sejak awal 2012, 17 pasukan pimpinan Amerika, termasuk tujuh AS dan lima pelatih Prancis, tewas oleh tentara Afghanistan dalam 10 serangan terpisah.

Ketidakamanan terus meningkat di Afghanistan meskipun kehadiran sekitar 130.000 pasukan pimpinan Amerika di negara yang dilanda perang.

Pada tanggal 11 Maret, beberapa tentara AS menembaki warga sipil Afghanistan dalam rumah mereka di distrik Panjwali di provinsi  Kandahar, menewaskan 16 dan melukai beberapa orang lainnya.

Menurut sebuah misi pencari fakta yang dibentuk oleh parlemen Afghanistan, sedikitnya 20 tentara AS terlibat dalam pembunuhan massal di Afghanistan terhadap rakyat sipil.

Pengadilan Spanyol Bebaskan Pangeran Saudi Dari Tuduhan Pemerkosaan

Pengadilan Spanyol menghentikan penyelidikan terhadap dugaan pemerkosaan yang dituduhkan kepada salah seorang Pangeran Saudi terhadap seorang model di kapal pesiar di Ibiza tiga tahun lalu, Rabu (28/03/2012), laporan AFP.
Kasus ini melibatkan Pangeran Al Walid bin Talal, keponakan Raja Abdullah dan merupakan salah satu orang terkaya di dunia, yang dituduh telah melakukan kekerasan seksual oleh seorang model berusia 20 tahun pada Agustus 2008.
Pangeran berusia 57 tahun telah membantah tuduhan tersebut. Dia mengatakan, dia tidak berada di dekat Ibiza pada saat itu.
Pengadilan Provinsi Palma de Majorca, ibukota Kepulauan Balearic, Senin (26/03/2012) memerintahkan penghentian persidangan dalam kasus tersebut karena adanya "kontradiksi dan ketidakjelasan" pada keterangan dan kesaksian korban.
Seorang hakim di Ibiza pada Mei 2010 memerintahkan agar menutup kasus ini akibat kurangnya bukti-bukti pendukung. Namun pengadilan justru membuka ulang kasus itu dan meminta pemerintah Saudi untuk mengambil pernyataan dari terdakwa.
Sebagai langkah balik, Oliva Ayala, firma hukum advokat Al Walid mengatakan, pihaknya sedang mempertimbangkan sebuah tindakan hukum terhadap wanita pelapor dengan alasan "membuat tuduhan palsu".
"Ini (tuduhan_red) merupakan ketidakadilan yang serius bagi Yang Mulia. Untuk ini, ia telah meminta kami untuk mempelajari bagaimana melanjutkan kasus ini untuk tujuan melindungi orang yang tidak bersalah lainnya dari serangan serupa," katanya.
"Putusan terakhir menegaskan apa yang telah kami katakan selama ini, yaitu bahwa tuduhan terhadap Pangeran Al Walid tidak hanya palsu dan keterlaluan tetapi juga tidak mungkin karena pada saat itu dia tidak berada di Spanyol, melainkan di Prancis bersama istri, anak, cucu dan di hadapan puluhan orang lainnya, "katanya menambahkan.
Wanita itu, yang belum diungkap identitasnya oleh pengadilan, meyakini minumannya telah dibubuhi obat di sebuah klub malam di Ibiza setelah ia bertemu sang pangeran.
"Saya tidak minum banyak, tapi saya pikir ada sesuatu di gelasku," katanya dalam pesan singkat yang dikirim pada 13 Agustus 2008 pukul 05:12 waktu setempat.

Dalam pesan singkat yang dikirim kepada saksi Benedicto Moreno Venecia, setelah bangun di kamar tidur kapal pesiar mewah "Turama" milik keluarga kerajaan Saudi, dia merasa ada seorang pria di atas tubuhnya yang sedang menciumnya dan merasakan sakit di daerah genitalnya.
Pangeran Al Walid bin Talal, menurut Majalah Forbes, merupakan orang terkaya ke-29 di dunia dengan harta kekayaan bersih senilai $18 M (13,5 M Euro). Sang pangeran adalah pemilik sejumlah saham di beberapa perusahaan besar seperti Citibank, Twitter dan News Corporation.

Amerika mematai-matai umat Islam lewat jamuan buka puasa Ramadhan

(Arrahmah.com) – Organisasi Persatuan Amerika untuk Kebebasan Sipil melaporkan Selasa (27/3/2012) telah meneliti sejumlah dokumen yang menunjukkan agen-agen FBI memata-matai umat Islam di California melalui kegiatan-kegiatan keagamaan.
Para agen FBI memata-matai para jama’ah masjid secara rutin selama empat tahun penuh di California Utara. Mereka mengikuti dan merekam ceramah-ceramah keagamaan, shalat jama’ah, dan kegiatan buka puasa bersama di bulan Ramadhan. Dalam melaksanakan aksinya, agen-agen FBI bekerjasama dengan agen-agen CIA.
Harian Los Angeles Times melaporkan bahwa Persatuan Amerika untuk Kebebasan Sipil, Masyarakat Hukum Asia, dan Yayasan Guardian Bay di San Fransisco telah mengajukan gugatan peradilan pada tahun 2011. Gugatan hukum diajukan terhadap FBI setelah ketiga organisasi itu menerima banyak pengaduan masyarakat muslim di California atas sikap FBI yang campur tangan terlalu dalam dan secara vulgar atas kegiatan kaum muslimin di kota itu.
Sepanjang 2007-2011, agen-agen FBI menghadiri acara buka puasa bersama di masjid-masjid California. Para agen merekam kegiatan dan ‘menginterogasi’ para jama’ah masjid dengan mendata nama setiap muslim yang hadir dalam acara, alamat lengkapnya, pekerjaan, pendidikan, kawan-kawan, dan bahkan pendapat-pendapat serta keyakinan keagamaan mereka. FBI kemudian membagikan data tersebut kepada CIA dan lembaga pemerintahan lainnya.

Membunuh Muslim menjadi salah satu pekerjaan yang dibayar tinggi di AS

WASHINGTON (Arrahmah.com) - Kenyataan bahwa AS melatih lebih banyak pilot untuk menerbangkan drone daripada untuk menerbangkan pesawat tempur dan pembom bukanlah hal yang baru, namun operator drone ini tumbuh pesat dan dibutuhkan oleh kontraktor sipil untuk meringankan beban mereka yang besar.
Erik German di The Daily melaporkan bahwa beberapa perguruan tinggi Amerika merespon permintaan dan penawaran terbaru Amerika dan kemungkinan untuk pembayaran terbaik yang sangat besar.
German melacak seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Michigan (NMC), Jeb Bailey yang mengatakan dia mengambil setiap kelas yang terkait dengan drone yang ditawarkan sekolahnya dan menyaksikan teman sekelasnya yang baru menerima pekerjaan dengan kontraktor luar negeri.  "Dia mendapatkan 200.000 USD setiap tahunnya," ujar Bailey dan ia bahkan tidak menyelesaikan gelar S1 nya di perguruan tinggi tersebut.
Aku menghubungi Al Laursen di NMC dan katanya mereka memperluas program, yang merupakan serangkaian pilihan dalam "sistem udara tak berawak".  Sementara ia dengan cepat menunjukkan bahwa tidak ada pasar domestik untuk pilot drone, dan itu akan berubah.
Ketika FAA memungkinkan kendaraan udara tak berawak di langit Amerika, "prospek kerja akan menjadi luar biasa," ujar Laursen, ia menambahkan "kami mempersiapkan untuk masa depan".
Dengan beberapa perkiraan wilayah udara AS yang memiliki ruang cukup, akan menjadi tuan rumah bagi 30.000 kendaraan udara tak berawak pada akhir dekade ini.
Sementara itu, sekolah seperti NMC melatih banyak siswauntuk pekerjaan luar negeri yang memungkinkan mereka untuk melunasi pinjaman mahasiswa mereka dengan cara cepat dari jadwal.
Sebagai mahasiswa, Bailey mengatakan kepada German, "Ide untuk pergi ke Afghanistan untuk satu tahun dan membayar semua pinjaman saya-itu sangat menarik.  Dalam sebuah jalur karir penerbangan, Anda benar-benar tidak dapat melakukannya sampai Anda telah berada di industri selama 20 tahun."

Survei: Mayoritas rakyat Pakistan ingin pemerintah meng-Islamisasi masyarakat



ISLAMABAD (Arrahmah.com) - Mayoritas rakyat Pakistan ingin pemerintah mengambil langkah-langkah untuk meng-Islamisasi masyarakat, seperti diungkapkan dari hasil Survei Gilani yang diadakan oleh Lembaga Survei Gallup Pakistan.
Dalam sebuah survei, sampel perwakilan nasional dari laki-laki dan perempuan dari seluruh penjuru Pakistan ditanyai pertanyaan: “Menurut anda apakah seharusnya pemerintah mengambil langkah untuk meng-Islamisasi masyarakat?”
Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa 67% dari responden rakyat Pakistan ingin pemerintah untuk mengambil langkah untuk menjadikan masyarakat Islami, 13% menjawab dengan mengatakan Pakistan tidak membutuhkan Islamisasi, sementara 20% tidak memberikan jawaban.
Mereka yang menjawab dengan “ya” kemudian ditanyai dengan pertanyaan selanjutnya: “Haruskah pemerintah mengambil langkah-langkah untuk Islamisasi sekaligus atau satu per satu?”
Sebanyak 48% mengatakan pemerintah harus mengambil langkah satu per satu, dan 31% mengatakan langkah-langkah yang harus diambil sekaligus, sementara 21% menyatakan abstain.
Survei ini dilakukan dari sampel berjumlah 2.738 laki-laki dan perempuan di daerah pedesaan dan perkotaan dari semua empat provinsi, selama bulan Januari 2011.
Margin error diperkirakan sekitar lebih kurang 2-3 persen dengan tingkat kepercayaan 95%. (althaf/arrahmah.com)
Share this post..
relatednews