Kamis, 19 April 2012

Pemakaman Jenazah Khadafi Tak Akan Ikuti Cara Islam

Pemerintahan interim Libya, Dewan Transisi Nasional, mengatakan pemakaman jenazah Kolonel Muammar Khadafi akan diundur selama beberapa hari untuk memberikan kesempatan kepada Pengadilan Kriminal Internasional melakukan penyelidikan di Misrata jika diperlukan. Demikian diberitakan CNN, Sabtu (22/10/2011).

Sesuai cara Islam, jenazah harus dikebumikan dalam kurun waktu 24 jam.Sebelumnya, PBB dan dua lembaga hak asasi manusia meminta agar dilakukan sebuah investigasi mengenai detik-detik terakhir bagaimana pemimpin Libya Kolonel Muammar Khadafi. Keberadaan anak Khadafi bernama Saif al-Islam juga tak diketahui.

Pengadilan Kriminal Internasional menginginkan Saif karena dianggap melakukan kejahatan yang melanggar kemanusiaan. Pejuang Revolusioner mengatakan mereka akan segera menangkapnya dan kini sedang mengendus jejak keberadaannya

Rabu, 18 April 2012

Gila, Tentara AS Foto Bersama dengan Mayat Tentara Afghanistan

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL - Aksi biadab tentara Amerika Serikat di Afghanistan, sepertinya tidak mengenal kata usai. Aksi, yang tidak dapat diterima oleh rasionalitas manusia kali ini adalah kala para tentara negeri Paman Sam tersebut berfoto bersama dengan mayat.

Foto yang dipublikasikan The Los Angeles Times itu memperlihatkan, para tentara AS tersenyum kala berfoto bersama dengan mayat yang diduga sebagai tersangka gerilyawan itu. Tak pelak, hal itu telah membawa fokus perang Afghanistan kembali memanas.

The Los Angeles Times melaporkan pada Rabu (18/4) bahwa seorang tentara Amerika memberikan 18 foto tentara berpose bersama mayat ke surat kabar untuk menarik perhatian pada risiko keselamatan dan disiplin bahwa dirinya percaya hal itu membahayakan keselamatan pasukan AS.

Foto tersebut diambil pada kesempatan yang berbeda di Provinsi Zabul selatan pada 2010 dan diserahkan kepada The Times seorang prajurit dari Divisi Lintas Udara ke-82 tanpa menyebut nama. Tentara AS mengatakan telah meluncurkan "investigasi kriminal." Kedutaan Besar AS di Kabul mengutuk foto itu dalam sebuah pernyataan.

Para prajurit Divisi Airborne ke-82 tersebut tiba di kantor polisi Afghanistan provinsi Zabol pada Februari 2010. Mereka memeriksa bagian tubuh mayat, tapi kemudian misi berubah mengerikan. Pasukan berpose di samping polisi Afghanistan yang telah tewas, menyeringai sementara beberapa orang lainnya berada disamping.

"Ini adalah pelanggaran standar Angkatan Darat untuk berpose dengan mayat untuk foto di luar tujuan resmi sanksi," kata George Wright, seorang juru bicara Angkatan Darat.

Menteri Pertahanan AS, Leon E. Panetta meminta maaf adanya foto-foto tersebut. Ia juga mengatakan perilaku tersebut benar-benar melanggar peraturan tentara. "Jika aturan dan peraturan ditemukan memiliki dilanggar, maka individu akan bertanggung jawab," katanya.

Panetta juga memperingatkan bahwa foto tersebut dapat memicu serangan baru terhadap pasukan asing pimpinan Amerika di negara yang dilanda perang. "Saya tahu bahwa perang dan kekerasan itu tidak bagus dan saya tahu bahwa banyak anak muda kadang terjebak pada saat mereka membuat beberapa keputusan yang sangat bodoh," katanya dalam konferensi pers NATO di Brussels.

Sekretaris Pers Gedung Putih Jay Carney menyebut tindakan para prajurit tersebut "tercela", dan mengatakan Presiden Obama ingin penyelidikan secara penuh. Sementara itu, komandan NATO di Afghanistan, AS Jenderal John Allen, dan Duta Besar Amerika Ryan Crocker, juga mengutuk tindakan bahkan sebelum foto-foto itu dipublikasikan secara online.

Ratusan Miliar Rupiah untuk Tangkap Obama-Bush

          London: Anggota parlemen Inggris dari Partai Buruh membuat gebrakan. Nazir Ahmed, demikian namanya, melontarkan pernyataan yang sangat kontroversial. Dalam Harian Pakistan Express Tribune, pertengahan April ini, orang Islam yang pertama kali menjadi anggota Dewan Inggris itu menawarkan hadiah sekitar 10 juta Pound Sterling atau sekitar Rp 150 miliar. Angka sebesar itu akan diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan mantan Presiden AS George W. Bush.



Pernyataan tersebut diungkapkan Nazir Ahmed di Haripur, Pakistan, pekan silam sebagai balasan atas penawaran pemerintah Amerika yang menawarkan memberikan hadiah sebesar US$ 10 juta atau sekitar Rp 91 miliar bagi yang berhasil menangkap Hafiz Muhammad Saeed, pimpinan Laskhar e Tayyiba. Warga Pakistan itu diklaim AS sebagai dalang serangan teroris 2008 di Mumbai, India.



Aksi Nazir Ahmed mendapat respons keras. Partai Buruh Inggris menonaktifkan keanggotaan dewan asal Pakistan tersebut, karena dinilai terlalu berani menantang AS. "Kita telah menonaktifkan sementara keanggotaan Ahmed hingga ia selesai diinterogasi. Jika pernyataannya itu benar dan serius, kami akan tindak tegas," kata juru bicara Partai Buruh, seperti dilansir AFP, Senin (16/4).



Selama menjadi anggota House of Lord Inggris, Nazir Ahmed memang sering menjadi sosok kontroversial. Dia menjadi penyelenggara peluncuran buku di House of Lord pada 2005 atas karya penulis kontroversial dari Swedia, Israel Shamir, yang dikenal anti-Israel dan Yahudi. Selain itu, Ahmed juga sangat berani menentang keputusan pemerintah Inggris yang memberikan gelar ningrat bagi Salman Rushdie pada 2007. Bagi Ahmed, Rushdie tak pantas diberi gelar tersebut karena telah menodai Islam, lewat buku The Satanic Verses

Tentara Amerika Serikat Bergaya Dengan Jasad Pejuang Afghanistan

Kabul, Afghanistan (Tribune/ANTARA) - Hubungan tegang Amerika Serikat dan NATO dengan Afghanistan mendapat pukulan lain pada Rabu dengan foto tentara negara adidaya itu bergaya dengan jasad cacat pejuang Afghanistan di koran AS.

Pejabat tinggi Amerika Serikat dan panglima Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di negara itu, Jenderal AS John Allen, bergerak cepat mengutuk gambar tersebut bahkan sebelum diterbitkan "Los Angeles Times", yang menerima foto itu dari prajurit lain.

"Tindakan pribadi di gambar itu tidak mewakili kebijakan Pasukan Bantuan Keamanan Asing atau Angkatan Darat Amerika Serikat," kata pernyataan Allen, dengan menambahkan bahwa penyelidikan atas kejadian tersebut sedang berlangsung.

Tampilan sekitar 18 gambar di laman "LA Times" itu, diambil pada 2010, muncul pada saat peka dalam hubungan Amerika Serikat-Afghanistan, sesudah penyiaran video pada Januari, yang menunjukkan empat Marinir AS mengencingi jasad gerilyawan Afghanistan.

Pembakaran Alquran di pangkalan besar udara persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO juga memicu sepekan kerusuhan, yang menewaskan 30 orang dan mengakibatkan kematian enam orang Amerika Serikat.

Pada Maret, sersan Angkatan Darat Amerika Serikat mengamuk dengan menembak membabi-buta pada malam hari di dua desa Afghanistan selatan, menewaskan 17 warga -sebagian besar wanita dan anak-anak- dan mendorong Presiden Afghanistan Hamid Karzai menuntut tentara asing membatasi diri di pangkalan utama.

Gerilyawan Taliban melancarkan serangan jibaku di Kabul dan tiga propinsi lain pada akhir tengah April, menyatakannya dilakukan sebagai pembalasan atas ketiga kejadian tersebut.

Di salah satu gambar itu, satu peterjun bergaya di samping tulisan tak resmi di samping jasad, bertuliskan "Pemburu Zombie", sementara di gambar lain, tentara bergaya dengan polisi Afghanistan memegang potongan kaki pejuang pembom.

Dua tentara di gambar lain memegang tangan jasad pejuang dengan jari tengah terangkat.

"LA Times" menyatakan tentara Divisi Lintas Udara 82 berada di kantor polisi di propinsi Zabol, Afghanistan, pada Februari 2010 dan mengunjunginya kembali beberapa bulan kemudian. Gambar itu diambil pada kedua kesempatan tersebut.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta dalam pernyataannya, yang disiarkan juru bicara departemen itu, George Little, mengatakan penyiaran gambar itu dapat mendorong serangan lebih lanjut terhadap pasukan keamanan pada masa depan.

"Bahayanya ialah bahwa bahan itu dapat digunakan musuh untuk menghasut kekerasan terhadap tentara Amerika Serikat dan Afghanistan di Afghanistan," kata Panetta, "Pasukan Amerika Serikat di negara tersebut mengambil langkah keamanan untuk menjaga hal itu."



Duta Besar Amerika Serikat untuk Afghanistan Ryan Crocker juga mengutuk foto itu, menyebut tindakan tentara tersebut "secara moral menjijikkan" dan menyatakan mereka "tidak menghormati pengorbanan ratusribuan tentara dan warga Amerika Serikat, yang bertugas dengan baik di Afghanistan".

"The Times" membela pemuatan foto itu, yang pejabat tentara Amerika Serikat minta "Times" tidak siarkan.

"Setelah pertimbangan cermat, kami memutuskan bahwa menerbitkan

sedikit, tapi mewakili dari foto pilihan itu memenuhi kewajiban kami kepada pembaca untuk melaporkan dengan semangat dan tidak memihak tentang semua unsur tugas Amerika Serikat di Afghanistan," kata redaktur "Times" Davan Maharaj dalam tulisan di surat kabar itu.

Foto cenderung membangkitkan lagi rasa benci Barat di Afghanistan, sementara pasukan tempur NATO dijadwalkan keluar dari negeri itu pada 2014 dan memperkuat keamanan rapuh di negara tersebut.

Peristiwa semacam itu memperumit upaya Amerika Serikat merundingkan perjanjian kemitraan strategis untuk menentukan kehadirannya sesudah sebagian besar pasukan tempur asing ditarik pada akhir 2014.(ar)